Nilai-Nilai Dakwah Dalam Bimbingan Dirosa (Pendidikan Al- Qur‟an Orang Dewasa) Di Wahdah Islamiyah Bone
Muh. Farid Hamdi/03.18.2089 - Personal Name
Penelitian ini membahas tentang Nilai-Nilai Dakwah dalam Bimbingan
Dirosa (Pendidikan al-Qur‟an Orang Dewasa) di Wahdah Islamiyah Bone.
Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu: a) Untuk mengetahui gambaran
pembimbingan dirosa di wahdah islamiyah Bone, b) Untuk mengetahui nilai-nilai
dakwah dalam pembimbingan dirosa di wahdah islamiyah Bone, c) Untuk
mengetahui dampak pembimbingan dirosa terhadap peserta dirosa.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan
komunikasi dan dakwah. Subjek dalam penelitian ini yaitu guru Dirosa di Wahdah
Islamiyah Bone. Dengan menggunakan metode penelitian wawancara, observasi
dan dokumentasi untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Data yang diperoleh
selanjutnya dianalisis menggunakan model analisis data kualitatif yang terdiri dari
tiga tahap yaitu, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, gambaran umum dari
dirosa ini adalah metode pembelajaran al-Qur‟an untuk orang dewasa,
dikembangkan dengan sistem 20 kali pertemuan, yang dijalankan sekali dalam
sepekan, durasi waktunya kurang lebih 90 menit setiap pertemuan dan di
dalamnya tidak hanya diajarkan seputar al-Qur‟an juga mengenai wawasan
keagamaan sebagai bekal dalam kehidupan beragama bagi peserta dirosa. Kedua,
nilai yang secara umum didapatkan dalam pembelajaran dirosa ini mencakup nilai
kedisiplinan waktu, kejujuran dalam menuntut ilmu, Nilai kerja keras dalam
mengikuti pembelajaran, nilai kebersihan hati dan jiwa, dan nilai kompetisi dalam
kebaikan. Ketiga, dampak yang signifikan ini mengarahkan peserta dirosa untuk
tahu cara membaca al-Qur‟an dan membentuk kepeduliaan yang mendalam terkait
dengan pengamalan agama mereka dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Membangun hubungan kedekatan antara mudarris dan peserta juga satu hal yang
menjadikan halaqah dirosa ini sebagai tempat membangun persaudaraan yang
saling kasih-mengasihi, dan saling mendukung satu sama lain
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil
kesimpulan, bahwa:
1. Gambaran umum dari dirosa ini adalah metode pembelajaran al-Qur‟an
untuk orang dewasa, dikembangkan dengan sistem klasikal 20 kali
pertemuan, yang dijalankan sekali dalam sepekan, durasi waktunya kurang
lebih 90 menit setiap pertemuan dan di dalamnya tidak hanya diajarkan
seputar al-Qur‟an juga mengenai wawasan keagamaan sebagai bekal
dalam kehidupan beragama bagi peserta dirosa. Selanjutnya, dari
pertemuan yang dilewati selama 20 kali pertemuan dengan penambahan
pengetahuan agama menjadi satu faktor penting yang dikembangkan
Wahdah Islamiyah dalam menjawab tantangan zaman. Perlahan-lahan
manusia telah tersibukkan dengan dunia, hingga mereka melupakan bekal
akhirat yang mereka akan bawa pulang di sisi Allah subhana wa ta‟ala. Hal
ini juga memberikan pengertian bahwa peran da’i sesungguhnya adalah
bagaimana da’i mengingatkan manusia untuk kembali kepada Allah, dan
menjadikan al-Qur‟an sebagai pedoman dan petunjuk yang diikuti,
semurni dari apa yang menjadi ajaran yang dibawa dan disampaikan oleh
Rasulullah shallallahu‟ „alaihi wa Sallam.
2. Nilai yang secara umum di dapatkan dalam pembelajaran dirosa ini
mencakup nilai kedisiplinan waktu, nilai kejujuran dalam menuntut ilmu,
nilai kerja keras dalam mengikuti pembelajaran, nilai kebersihan hati dan
jiwa, dan nilai kompetisi dalam kebaikan.
3. Dampak yang signifikan ini mengarahkan peserta dirosa untuk tahu cara
membaca al-Qur‟an dan membentuk kepeduliaan yang mendalam terkait
dengan pengamalan agama mereka dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Membangun hubungan kedekatan antara mudarris dan peserta juga satu
hal yang menjadikan halaqah dirosa ini sebagai tempat membangun
persaudaraan yang saling kasih-mengasihi, dan saling mendukung satu
sama lain.
B. Implikasi
Dari penelitian yang telah dipaparkan, maka peneliti memberikan beberapa
saran yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan.
1. Gerakan dirosa di Kabupaten Bone bisa lebih digencarkan, mengingat
dengan kebaikan yang besar di balik gerakan ini.
2. Wahdah Islamiyah bisa menjadi lembaga yang eksis di tengah masyarakat
dan menjadi lembaga yang aktif dalam mengajak masyarakat untuk belajar
al-Qur‟an.
Dirosa (Pendidikan al-Qur‟an Orang Dewasa) di Wahdah Islamiyah Bone.
Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu: a) Untuk mengetahui gambaran
pembimbingan dirosa di wahdah islamiyah Bone, b) Untuk mengetahui nilai-nilai
dakwah dalam pembimbingan dirosa di wahdah islamiyah Bone, c) Untuk
mengetahui dampak pembimbingan dirosa terhadap peserta dirosa.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan
komunikasi dan dakwah. Subjek dalam penelitian ini yaitu guru Dirosa di Wahdah
Islamiyah Bone. Dengan menggunakan metode penelitian wawancara, observasi
dan dokumentasi untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Data yang diperoleh
selanjutnya dianalisis menggunakan model analisis data kualitatif yang terdiri dari
tiga tahap yaitu, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, gambaran umum dari
dirosa ini adalah metode pembelajaran al-Qur‟an untuk orang dewasa,
dikembangkan dengan sistem 20 kali pertemuan, yang dijalankan sekali dalam
sepekan, durasi waktunya kurang lebih 90 menit setiap pertemuan dan di
dalamnya tidak hanya diajarkan seputar al-Qur‟an juga mengenai wawasan
keagamaan sebagai bekal dalam kehidupan beragama bagi peserta dirosa. Kedua,
nilai yang secara umum didapatkan dalam pembelajaran dirosa ini mencakup nilai
kedisiplinan waktu, kejujuran dalam menuntut ilmu, Nilai kerja keras dalam
mengikuti pembelajaran, nilai kebersihan hati dan jiwa, dan nilai kompetisi dalam
kebaikan. Ketiga, dampak yang signifikan ini mengarahkan peserta dirosa untuk
tahu cara membaca al-Qur‟an dan membentuk kepeduliaan yang mendalam terkait
dengan pengamalan agama mereka dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Membangun hubungan kedekatan antara mudarris dan peserta juga satu hal yang
menjadikan halaqah dirosa ini sebagai tempat membangun persaudaraan yang
saling kasih-mengasihi, dan saling mendukung satu sama lain
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil
kesimpulan, bahwa:
1. Gambaran umum dari dirosa ini adalah metode pembelajaran al-Qur‟an
untuk orang dewasa, dikembangkan dengan sistem klasikal 20 kali
pertemuan, yang dijalankan sekali dalam sepekan, durasi waktunya kurang
lebih 90 menit setiap pertemuan dan di dalamnya tidak hanya diajarkan
seputar al-Qur‟an juga mengenai wawasan keagamaan sebagai bekal
dalam kehidupan beragama bagi peserta dirosa. Selanjutnya, dari
pertemuan yang dilewati selama 20 kali pertemuan dengan penambahan
pengetahuan agama menjadi satu faktor penting yang dikembangkan
Wahdah Islamiyah dalam menjawab tantangan zaman. Perlahan-lahan
manusia telah tersibukkan dengan dunia, hingga mereka melupakan bekal
akhirat yang mereka akan bawa pulang di sisi Allah subhana wa ta‟ala. Hal
ini juga memberikan pengertian bahwa peran da’i sesungguhnya adalah
bagaimana da’i mengingatkan manusia untuk kembali kepada Allah, dan
menjadikan al-Qur‟an sebagai pedoman dan petunjuk yang diikuti,
semurni dari apa yang menjadi ajaran yang dibawa dan disampaikan oleh
Rasulullah shallallahu‟ „alaihi wa Sallam.
2. Nilai yang secara umum di dapatkan dalam pembelajaran dirosa ini
mencakup nilai kedisiplinan waktu, nilai kejujuran dalam menuntut ilmu,
nilai kerja keras dalam mengikuti pembelajaran, nilai kebersihan hati dan
jiwa, dan nilai kompetisi dalam kebaikan.
3. Dampak yang signifikan ini mengarahkan peserta dirosa untuk tahu cara
membaca al-Qur‟an dan membentuk kepeduliaan yang mendalam terkait
dengan pengamalan agama mereka dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Membangun hubungan kedekatan antara mudarris dan peserta juga satu
hal yang menjadikan halaqah dirosa ini sebagai tempat membangun
persaudaraan yang saling kasih-mengasihi, dan saling mendukung satu
sama lain.
B. Implikasi
Dari penelitian yang telah dipaparkan, maka peneliti memberikan beberapa
saran yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan.
1. Gerakan dirosa di Kabupaten Bone bisa lebih digencarkan, mengingat
dengan kebaikan yang besar di balik gerakan ini.
2. Wahdah Islamiyah bisa menjadi lembaga yang eksis di tengah masyarakat
dan menjadi lembaga yang aktif dalam mengajak masyarakat untuk belajar
al-Qur‟an.
Ketersediaan
| SFUD20240069 | 69/2024 | Perpustakaan Pusat | Tersedia |
Informasi Detil
Judul Seri
-
No. Panggil
69/2024
Penerbit
IAIN BONE : Watampone., 2024
Deskripsi Fisik
-
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
Skripsi FUD
Informasi Detil
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subyek
-
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Tidak tersedia versi lain
