Peran Ikhlas pada Model BDI (Belief, Desire, Intention) dalam Membangun Pertanian Hijau di Kalangan Masyarakat Pedesaan di Kec. Palakka
Riska/602022021021 - Personal Name
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran ikhlas pada model BDI (Belief,
Desire, Intention) dalam membangun pertanian hijau di kalangan masyarakat
pedesaan di Kecamatan Palakka. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya
praktik pertanian hijau untuk meningkatkan kesejahteraan lingkungan, seperti
penggunaan metode organik, pengelolaan air yang efisien, dan pelestarian
keanekaragaman hayati. Penelitian ini menggunakan pendekatan integratif,
menggabungkan metode kuantitatif dan ekonomi Islam untuk menganalisiss pengaruh
belief, desire, dan intention terhadap keputusan membangun pertanian hijau, serta
peran ikhlas dalam hubungan tersebut. Pengumpulan data melalui survei kuesioner
yang diisi oleh 152 responden dari masyarakat pedesaan dengan potensi atau
pengalaman dalam pertanian hijau. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan
teknik Structural Equation Modeling (SEM) melalui SmartPLS 4. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa ikhlas, desire, dan belief berpengaruh signifikan terhadap
intention dan keputusan menerapkan pertanian hijau, dengan intention sebagai
mediator. Penambahan nilai ikhlas memperkuat niat dan keputusan masyarakat
pedesaan dalam mengadopsi pertanian hijau. Temuan ini mendukung perumusan
kebijakan pertanian berkelanjutan yang menekankan nilai spiritual untuk mendorong
partisipasi masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
1. Pengaruh belief, desire, ikhlas dan intention terhadap keputusan membangun
pertanian hijau di kalangan masyarakat pedesaan di Kecamatan Palakka, dapat
ditunjukkan sebagai berikut: (1) Belief terhadap KMP tidak signifikan dengan nilai Tstatistik sebesar 1.177, dan nilai P values sebesar 0.241. Hal ini menunjukkan bahwa
Belief individu tidak secara langsung mempengaruhi keputusan mereka untuk
membangun pertanian hijau. (2) Desire terhadap KMP signifikan dengan nilai Tstatistik sebesar 2.965, dan nilai P values sebesar 0.004. Hal ini menunjukkan bahwa
Desire individu berpengaruh secara langsung terhadap keputusan mereka dalam
membangun pertanian hijau. (3) Ikhlas terhadap KMP signifikan dengan nilai Tstatistik sebesar 2.297, dan nilai P values sebesar 0.023. Hal ini menunjukkan bahwa
keikhlasan individu berpengaruh langsung terhadap keputusan mereka dalam
membangun pertanian hijau. (4) Intention terhadap KMP sangat signifikan dengan
nilai T-statistik sebesar 3.843, dan nilai P values sebesar 0.000. Hal ini menunjukkan
bahwa Intention yang kuat berpengaruh besar terhadap keputusan individu untuk
membangun pertanian hijau.
2. Pengaruh belief, desire, dan ikhlas terhadap intention membangun pertanian hijau di
kalangan masyarakat pedesaan di Kecamatan Palakka, dapat ditunjukkan sebagai
berikut: (1) Belief terhadap Intention tidak signifikan dengan nilai T-statistik sebesar
0.065, dan nilai P values sebesar 0.948. Hal ini menunjukkan bahwa belief individu
terhadap pertanian hijau tidak memiliki pengaruh yang berarti terhadap niat mereka.
99
(2) Desire terhadap Intention dengan nilai T-statistik sebesar 4.972, dan nilai P values
sebesar 0.000. Hal ini menunjukkan bahwa Desire individu memiliki pengaruh kuat
terhadap niat mereka untuk membangun pertanian hijau. (3) Ikhlas terhadap Intention
menunjukkan nilai T-statistik sebesar 5.011, dan nilai P values sebesar 0.000. Hal ini
menunjukkan bahwa niat yang ikhlas memiliki pengaruh yang kuat terhadap Intention
individu untuk membangun pertanian hijau.
3. Peran mediasi intention pada hubungan antara belief, desire, dan ikhlas dengan
keputusan membangun pertanian hijau di kalangan masyarakat pedesaan di
Kecamatan Palakka, dapat ditunjukkan sebagai berikut: (1) Hubungan Be -> In ->
KMP, hasil menunjukkan koefisien sebesar -0.003 dengan nilai rata-rata sampel (M)
sebesar -0.002 dan standar deviasi (STDEV) sebesar 0.043. T Statistik menunjukkan
nilai sebesar 0.060 dengan nilai P values sebesar 0.953, menunjukkan tidak adanya
pengaruh signifikan secara statistik. (2) Hubungan De -> In -> KMP, hasil
menunjukkan koefisien sebesar 0.179 dengan nilai rata-rata sampel (M) sebesar 0.173
dan standar deviasi (STDEV) sebesar 0.061. T Statistik menunjukkan nilai sebesar
2.908 dengan nilai P values sebesar 0.004, mengindikasikan adanya pengaruh yang
signifikan secara statistik. (3) Hubungan Ik -> In -> KMP, hasil menunjukkan
koefisien sebesar 0.146 dengan nilai rata-rata sampel (M) sebesar 0.142 dan standar
deviasi (STDEV) sebesar 0.045. T Statistik menunjukkan nilai sebesar 3.261 dengan
nilai P values sebesar 0.001, menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan secara
statistik.
B. Rekomendasi
Berdasarkan hasil kesimpulan di atas, dapat ditarik beberapa rekomendasi
sebagai berikut.
1. Peningkatan pendidikan dan kesadaran. Direkomendasikan untuk meningkatkan
program pendidikan dan kampanye kesadaran yang fokus pada manfaat pertanian
hijau serta kontribusinya terhadap keberlanjutan lingkungan. Hal ini penting
mengingat bahwa faktor Belief (Be) tidak secara signifikan mempengaruhi keputusan
membangun pertanian hijau.
2. Penguatan motivasi internal. Direkomendasikan untuk mengembangkan strategi yang
meningkatkan Desire (De) dan Ikhlas (Ik) dalam konteks pertanian hijau. Ini dapat
mencakup pengembangan insentif dan program penghargaan yang mendorong
komitmen individu terhadap praktik pertanian hijau.
3. Optimalisasi niat bertindak. Penting untuk memperkuat Intention (In) melalui strategi
komunikasi yang efektif dan program yang dirancang untuk meningkatkan komitmen
dan keinginan individu untuk berpartisipasi dalam pertanian hijau.
C. Saran
Berdasarkan hasil rekomendasi diatas, dapat ditarik beberapa saran sebagai berikut:
1. Pengembangan program partisipatif. Disarankan untuk mengintegrasikan komunitas
lokal secara aktif dalam pengembangan keputusan terkait pertanian hijau. Ini dapat
meningkatkan penerimaan dan efektivitas program di tingkat lokal.
2. Evaluasi faktor Belief (Be). Meskipun Belief (Be) tidak signifikan dalam pengambilan
keputusan membangun pertanian hijau, disarankan untuk melakukan penelitian lebih
lanjut yang mungkin membedah dimensi atau sub-aspek dari kepercayaan yang
mungkin memiliki dampak yang lebih signifikan.
3. Pengembangan kebijakan dan dukungan pemerintah. Disarankan untuk pemerintah
daerah agar mengembangkan kebijakan yang mendukung dan memberikan insentif
kepada masyarakat untuk beralih ke praktik pertanian hijau. Ini dapat berupa subsidi,
bantuan teknis, atau program penghargaan bagi petani yang berhasil menerapkan
pertanian hijau.
D. Implikasi
Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat ditarik beberapa implikasi sebagai
berikut:
1. Pengaruh desire dan ikhlas. Temuan bahwa Desire (De) dan Ikhlas (Ik) memiliki
pengaruh signifikan terhadap keputusan membangun pertanian hijau menunjukkan
bahwa memperkuat motivasi internal dan komitmen pribadi dapat menjadi strategi
yang efektif dalam mendorong perilaku pro-environmental.
2. Peran mediasi intention. Implikasi dari mediasi menunjukkan pentingnya Intention
(In) sebagai mediator yang efektif antara Desire (De) dan Ikhlas (Ik) dengan
keputusan membangun pertanian hijau. Strategi yang fokus pada penguatan Intention
dapat meningkatkan keberhasilan implementasi kebijakan pro-environmental di
lapangan.
3. Penguatan keterlibatan komunitas. Berdasarkan kesimpulan di atas, juga diperlukan
upaya konkret untuk memperkuat keterlibatan komunitas dalam semua tahapan
implementasi praktik pertanian hijau. Ini termasuk pendekatan partisipatif dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program, serta membangun kapasitas lokal
untuk memastikan keberlanjutan dan keberhasilan jangka panjang dari inisiatif ini.
Desire, Intention) dalam membangun pertanian hijau di kalangan masyarakat
pedesaan di Kecamatan Palakka. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya
praktik pertanian hijau untuk meningkatkan kesejahteraan lingkungan, seperti
penggunaan metode organik, pengelolaan air yang efisien, dan pelestarian
keanekaragaman hayati. Penelitian ini menggunakan pendekatan integratif,
menggabungkan metode kuantitatif dan ekonomi Islam untuk menganalisiss pengaruh
belief, desire, dan intention terhadap keputusan membangun pertanian hijau, serta
peran ikhlas dalam hubungan tersebut. Pengumpulan data melalui survei kuesioner
yang diisi oleh 152 responden dari masyarakat pedesaan dengan potensi atau
pengalaman dalam pertanian hijau. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan
teknik Structural Equation Modeling (SEM) melalui SmartPLS 4. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa ikhlas, desire, dan belief berpengaruh signifikan terhadap
intention dan keputusan menerapkan pertanian hijau, dengan intention sebagai
mediator. Penambahan nilai ikhlas memperkuat niat dan keputusan masyarakat
pedesaan dalam mengadopsi pertanian hijau. Temuan ini mendukung perumusan
kebijakan pertanian berkelanjutan yang menekankan nilai spiritual untuk mendorong
partisipasi masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
1. Pengaruh belief, desire, ikhlas dan intention terhadap keputusan membangun
pertanian hijau di kalangan masyarakat pedesaan di Kecamatan Palakka, dapat
ditunjukkan sebagai berikut: (1) Belief terhadap KMP tidak signifikan dengan nilai Tstatistik sebesar 1.177, dan nilai P values sebesar 0.241. Hal ini menunjukkan bahwa
Belief individu tidak secara langsung mempengaruhi keputusan mereka untuk
membangun pertanian hijau. (2) Desire terhadap KMP signifikan dengan nilai Tstatistik sebesar 2.965, dan nilai P values sebesar 0.004. Hal ini menunjukkan bahwa
Desire individu berpengaruh secara langsung terhadap keputusan mereka dalam
membangun pertanian hijau. (3) Ikhlas terhadap KMP signifikan dengan nilai Tstatistik sebesar 2.297, dan nilai P values sebesar 0.023. Hal ini menunjukkan bahwa
keikhlasan individu berpengaruh langsung terhadap keputusan mereka dalam
membangun pertanian hijau. (4) Intention terhadap KMP sangat signifikan dengan
nilai T-statistik sebesar 3.843, dan nilai P values sebesar 0.000. Hal ini menunjukkan
bahwa Intention yang kuat berpengaruh besar terhadap keputusan individu untuk
membangun pertanian hijau.
2. Pengaruh belief, desire, dan ikhlas terhadap intention membangun pertanian hijau di
kalangan masyarakat pedesaan di Kecamatan Palakka, dapat ditunjukkan sebagai
berikut: (1) Belief terhadap Intention tidak signifikan dengan nilai T-statistik sebesar
0.065, dan nilai P values sebesar 0.948. Hal ini menunjukkan bahwa belief individu
terhadap pertanian hijau tidak memiliki pengaruh yang berarti terhadap niat mereka.
99
(2) Desire terhadap Intention dengan nilai T-statistik sebesar 4.972, dan nilai P values
sebesar 0.000. Hal ini menunjukkan bahwa Desire individu memiliki pengaruh kuat
terhadap niat mereka untuk membangun pertanian hijau. (3) Ikhlas terhadap Intention
menunjukkan nilai T-statistik sebesar 5.011, dan nilai P values sebesar 0.000. Hal ini
menunjukkan bahwa niat yang ikhlas memiliki pengaruh yang kuat terhadap Intention
individu untuk membangun pertanian hijau.
3. Peran mediasi intention pada hubungan antara belief, desire, dan ikhlas dengan
keputusan membangun pertanian hijau di kalangan masyarakat pedesaan di
Kecamatan Palakka, dapat ditunjukkan sebagai berikut: (1) Hubungan Be -> In ->
KMP, hasil menunjukkan koefisien sebesar -0.003 dengan nilai rata-rata sampel (M)
sebesar -0.002 dan standar deviasi (STDEV) sebesar 0.043. T Statistik menunjukkan
nilai sebesar 0.060 dengan nilai P values sebesar 0.953, menunjukkan tidak adanya
pengaruh signifikan secara statistik. (2) Hubungan De -> In -> KMP, hasil
menunjukkan koefisien sebesar 0.179 dengan nilai rata-rata sampel (M) sebesar 0.173
dan standar deviasi (STDEV) sebesar 0.061. T Statistik menunjukkan nilai sebesar
2.908 dengan nilai P values sebesar 0.004, mengindikasikan adanya pengaruh yang
signifikan secara statistik. (3) Hubungan Ik -> In -> KMP, hasil menunjukkan
koefisien sebesar 0.146 dengan nilai rata-rata sampel (M) sebesar 0.142 dan standar
deviasi (STDEV) sebesar 0.045. T Statistik menunjukkan nilai sebesar 3.261 dengan
nilai P values sebesar 0.001, menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan secara
statistik.
B. Rekomendasi
Berdasarkan hasil kesimpulan di atas, dapat ditarik beberapa rekomendasi
sebagai berikut.
1. Peningkatan pendidikan dan kesadaran. Direkomendasikan untuk meningkatkan
program pendidikan dan kampanye kesadaran yang fokus pada manfaat pertanian
hijau serta kontribusinya terhadap keberlanjutan lingkungan. Hal ini penting
mengingat bahwa faktor Belief (Be) tidak secara signifikan mempengaruhi keputusan
membangun pertanian hijau.
2. Penguatan motivasi internal. Direkomendasikan untuk mengembangkan strategi yang
meningkatkan Desire (De) dan Ikhlas (Ik) dalam konteks pertanian hijau. Ini dapat
mencakup pengembangan insentif dan program penghargaan yang mendorong
komitmen individu terhadap praktik pertanian hijau.
3. Optimalisasi niat bertindak. Penting untuk memperkuat Intention (In) melalui strategi
komunikasi yang efektif dan program yang dirancang untuk meningkatkan komitmen
dan keinginan individu untuk berpartisipasi dalam pertanian hijau.
C. Saran
Berdasarkan hasil rekomendasi diatas, dapat ditarik beberapa saran sebagai berikut:
1. Pengembangan program partisipatif. Disarankan untuk mengintegrasikan komunitas
lokal secara aktif dalam pengembangan keputusan terkait pertanian hijau. Ini dapat
meningkatkan penerimaan dan efektivitas program di tingkat lokal.
2. Evaluasi faktor Belief (Be). Meskipun Belief (Be) tidak signifikan dalam pengambilan
keputusan membangun pertanian hijau, disarankan untuk melakukan penelitian lebih
lanjut yang mungkin membedah dimensi atau sub-aspek dari kepercayaan yang
mungkin memiliki dampak yang lebih signifikan.
3. Pengembangan kebijakan dan dukungan pemerintah. Disarankan untuk pemerintah
daerah agar mengembangkan kebijakan yang mendukung dan memberikan insentif
kepada masyarakat untuk beralih ke praktik pertanian hijau. Ini dapat berupa subsidi,
bantuan teknis, atau program penghargaan bagi petani yang berhasil menerapkan
pertanian hijau.
D. Implikasi
Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat ditarik beberapa implikasi sebagai
berikut:
1. Pengaruh desire dan ikhlas. Temuan bahwa Desire (De) dan Ikhlas (Ik) memiliki
pengaruh signifikan terhadap keputusan membangun pertanian hijau menunjukkan
bahwa memperkuat motivasi internal dan komitmen pribadi dapat menjadi strategi
yang efektif dalam mendorong perilaku pro-environmental.
2. Peran mediasi intention. Implikasi dari mediasi menunjukkan pentingnya Intention
(In) sebagai mediator yang efektif antara Desire (De) dan Ikhlas (Ik) dengan
keputusan membangun pertanian hijau. Strategi yang fokus pada penguatan Intention
dapat meningkatkan keberhasilan implementasi kebijakan pro-environmental di
lapangan.
3. Penguatan keterlibatan komunitas. Berdasarkan kesimpulan di atas, juga diperlukan
upaya konkret untuk memperkuat keterlibatan komunitas dalam semua tahapan
implementasi praktik pertanian hijau. Ini termasuk pendekatan partisipatif dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program, serta membangun kapasitas lokal
untuk memastikan keberlanjutan dan keberhasilan jangka panjang dari inisiatif ini.
Ketersediaan
| STAR20250035 | 35/2025 | Perpustakaan Pusat | Tersedia |
Informasi Detil
Judul Seri
-
No. Panggil
35/2025
Penerbit
IAIN BONE : Watampone., 2025
Deskripsi Fisik
-
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
Skripsi FEBI
Informasi Detil
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Tidak tersedia versi lain
