Implementasi Konsep Apology Language Guna Memperkuat Hubungan Keluarga (Studi Pada Pasangan Nikah Usia Muda di Kec. Sibulue)
Nurfaisa Dewi/742302020055 - Personal Name
Skripsi ini membahas tentang implementasi konsep apology language guna
memperkuat hubungan keluarga studi pada pasangan nikah usia muda di kecamatan
Sibulue. Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini yaitu (1) Bagaimana
pengaruh apology language dalam penyelesaian konflik pasangan nikah usia muda
(2) Bagaimana implementasi apology language dalam meningkatkan ketahanan
keluarga pada pasangan nikah usia muda di Kec. Sibulue. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui pengaruh apology language dalam menyelesaikan konflik
dan implementasi apology language dalam meningkatkan ketahanan keluarga pada
pasangan nikah usia muda yang ada di Kec. Sibulue.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan
menggunakan metode kualitatif adapun pendekatan penelitian yang digunakan yaitu
pendekatan teologis normatif, pendekatan yuridis normatif dan pendekatan sosiologi
empiris. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara dan
dokumentasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sikap dan perilaku tulus saat
menyampaikan permintaan maaf memiliki dampak signifikan dalam memperbaiki
hubungan dan menyelesaikan konflik. Di Kecamatan Sibulue nilai-nilai budaya lokal
memainkan peran penting dalam membentuk sikap dan perilaku saat meminta maaf.
Budaya lokal yang menekankan keharmonisan dan saling menghargai menambah
dimensi tambahan pada cara permintaan maaf disampaikan dan diterima. sikap
empatik dan terbuka dalam permintaan maaf tidak hanya mengikuti teori perilaku
sosial tetapi juga mematuhi norma-norma budaya yang mengutamakan pentingnya
hubungan yang harmonis dan saling menghargai. Dengan demikian, integrasi nilai
budaya lokal dalam proses permintaan maaf meningkatkan efektivitasnya karena
resonansi emosional dan sosial yang lebih kuat dengan norma-norma yang berlaku.
Pasangan nikah usia muda di Kecamatan Sibulue menerapkan berbagai bentuk
apology language yang disesuaikan dengan situasi dan preferensi masing-masing
pasangan, sehingga permintaan maaf menjadi lebih efektif dalam konteks hubungan
mereka. Perencanaan yang matang dalam menyampaikan permintaan maaf, termasuk
pemilihan waktu yang tepat dan cara yang sesuai, menjadi kunci utama dalam
memastikan bahwa pesan permintaan maaf diterima dengan baik. Ketepatan ini
mempengaruhi seberapa besar permintaan maaf tersebut dapat meredakan ketegangan
dan membantu pasangan untuk kembali pada harmoni.
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan adapun kesimpulan pada
penelitian ini, yaitu:
1. Penggunaan apology language terbukti efektif dalam menyelesaikan konflik
dan memperkuat ketahanan keluarga pada pasangan nikah usia muda di
Kecamatan Sibulue. Permintaan maaf yang tulus memiliki peran penting dalam
meredakan ketegangan yang mungkin timbul dalam hubungan, sekaligus
meningkatkan kualitas komunikasi antara pasangan. Dengan adanya apology
language, pasangan lebih mudah mengungkapkan perasaan mereka, yang pada
gilirannya menciptakan suasana yang lebih harmonis di dalam rumah tangga.
Penggunaan apology language juga mendorong keterbukaan emosional,
memfasilitasi proses penyelesaian konflik dengan cara yang lebih konstruktif.
Permintaan maaf yang dilakukan dengan tepat tidak hanya berfungsi untuk
menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, tetapi juga membantu
memperkuat ikatan emosional antara pasangan.
2. Pasangan nikah usia muda di Kecamatan Sibulue menerapkan berbagai bentuk
apology language yang disesuaikan dengan situasi dan preferensi masing-
masing pasangan, sehingga permintaan maaf menjadi lebih efektif dalam
konteks hubungan mereka. Perencanaan yang matang dalam menyampaikan
permintaan maaf, termasuk pemilihan waktu yang tepat dan cara yang sesuai,
menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa pesan permintaan maaf diterima
dengan baik. Ketepatan ini mempengaruhi seberapa besar permintaan maaf
68
tersebut dapat meredakan ketegangan dan membantu pasangan untuk kembali
pada harmoni. Sikap tulus, terbuka, dan empatik saat menyampaikan
permintaan maaf juga berperan penting dalam keberhasilan proses rekonsiliasi.
Ketika permintaan maaf disampaikan dengan hati yang terbuka dan empati,
pasangan lebih cenderung untuk menerima dan memaafkan, yang pada
gilirannya memperkuat ikatan dan ketahanan keluarga.
B. Saran
Adapun saran yang bias disampaikan pada penelitian ini sebagai berikut:
1. Melakukan penelitian jangka panjang untuk mengamati efek penerapan apology
language terhadap ketahanan keluarga pasangan nikah usia muda. Penelitian ini
akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dampak jangka
panjang dari penggunaan apology language, termasuk bagaimana hal ini
mempengaruhi stabilitas pernikahan, kualitas komunikasi, dan kemampuan
pasangan dalam mengatasi konflik seiring berjalannya waktu.
2. Merancang dan mengevaluasi efektivitas program pelatihan apology language
khusus untuk pasangan nikah usia muda. Program ini dapat fokus pada teknik-
teknik praktis dalam menggunakan apology language yang efektif, disesuaikan
dengan konteks budaya lokal di Kecamatan Sibulue. Evaluasi program ini dapat
memberikan wawasan berharga tentang cara terbaik untuk mengajarkan dan
menerapkan keterampilan apology language dalam kehidupan sehari-hari
pasangan muda.
3. Melakukan penelitian perbandingan tentang penggunaan apology language di
berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang berbeda. Studi ini dapat
membantu mengidentifikasi perbedaan dan persamaan dalam penerapan dan
efektivitas apology language di berbagai konteks budaya. Hal ini akan
memberikan pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana faktor budaya
mempengaruhi penggunaan dan penerimaan apology language dalam resolusi
konflik keluarga.
memperkuat hubungan keluarga studi pada pasangan nikah usia muda di kecamatan
Sibulue. Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini yaitu (1) Bagaimana
pengaruh apology language dalam penyelesaian konflik pasangan nikah usia muda
(2) Bagaimana implementasi apology language dalam meningkatkan ketahanan
keluarga pada pasangan nikah usia muda di Kec. Sibulue. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui pengaruh apology language dalam menyelesaikan konflik
dan implementasi apology language dalam meningkatkan ketahanan keluarga pada
pasangan nikah usia muda yang ada di Kec. Sibulue.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan
menggunakan metode kualitatif adapun pendekatan penelitian yang digunakan yaitu
pendekatan teologis normatif, pendekatan yuridis normatif dan pendekatan sosiologi
empiris. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara dan
dokumentasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sikap dan perilaku tulus saat
menyampaikan permintaan maaf memiliki dampak signifikan dalam memperbaiki
hubungan dan menyelesaikan konflik. Di Kecamatan Sibulue nilai-nilai budaya lokal
memainkan peran penting dalam membentuk sikap dan perilaku saat meminta maaf.
Budaya lokal yang menekankan keharmonisan dan saling menghargai menambah
dimensi tambahan pada cara permintaan maaf disampaikan dan diterima. sikap
empatik dan terbuka dalam permintaan maaf tidak hanya mengikuti teori perilaku
sosial tetapi juga mematuhi norma-norma budaya yang mengutamakan pentingnya
hubungan yang harmonis dan saling menghargai. Dengan demikian, integrasi nilai
budaya lokal dalam proses permintaan maaf meningkatkan efektivitasnya karena
resonansi emosional dan sosial yang lebih kuat dengan norma-norma yang berlaku.
Pasangan nikah usia muda di Kecamatan Sibulue menerapkan berbagai bentuk
apology language yang disesuaikan dengan situasi dan preferensi masing-masing
pasangan, sehingga permintaan maaf menjadi lebih efektif dalam konteks hubungan
mereka. Perencanaan yang matang dalam menyampaikan permintaan maaf, termasuk
pemilihan waktu yang tepat dan cara yang sesuai, menjadi kunci utama dalam
memastikan bahwa pesan permintaan maaf diterima dengan baik. Ketepatan ini
mempengaruhi seberapa besar permintaan maaf tersebut dapat meredakan ketegangan
dan membantu pasangan untuk kembali pada harmoni.
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan adapun kesimpulan pada
penelitian ini, yaitu:
1. Penggunaan apology language terbukti efektif dalam menyelesaikan konflik
dan memperkuat ketahanan keluarga pada pasangan nikah usia muda di
Kecamatan Sibulue. Permintaan maaf yang tulus memiliki peran penting dalam
meredakan ketegangan yang mungkin timbul dalam hubungan, sekaligus
meningkatkan kualitas komunikasi antara pasangan. Dengan adanya apology
language, pasangan lebih mudah mengungkapkan perasaan mereka, yang pada
gilirannya menciptakan suasana yang lebih harmonis di dalam rumah tangga.
Penggunaan apology language juga mendorong keterbukaan emosional,
memfasilitasi proses penyelesaian konflik dengan cara yang lebih konstruktif.
Permintaan maaf yang dilakukan dengan tepat tidak hanya berfungsi untuk
menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, tetapi juga membantu
memperkuat ikatan emosional antara pasangan.
2. Pasangan nikah usia muda di Kecamatan Sibulue menerapkan berbagai bentuk
apology language yang disesuaikan dengan situasi dan preferensi masing-
masing pasangan, sehingga permintaan maaf menjadi lebih efektif dalam
konteks hubungan mereka. Perencanaan yang matang dalam menyampaikan
permintaan maaf, termasuk pemilihan waktu yang tepat dan cara yang sesuai,
menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa pesan permintaan maaf diterima
dengan baik. Ketepatan ini mempengaruhi seberapa besar permintaan maaf
68
tersebut dapat meredakan ketegangan dan membantu pasangan untuk kembali
pada harmoni. Sikap tulus, terbuka, dan empatik saat menyampaikan
permintaan maaf juga berperan penting dalam keberhasilan proses rekonsiliasi.
Ketika permintaan maaf disampaikan dengan hati yang terbuka dan empati,
pasangan lebih cenderung untuk menerima dan memaafkan, yang pada
gilirannya memperkuat ikatan dan ketahanan keluarga.
B. Saran
Adapun saran yang bias disampaikan pada penelitian ini sebagai berikut:
1. Melakukan penelitian jangka panjang untuk mengamati efek penerapan apology
language terhadap ketahanan keluarga pasangan nikah usia muda. Penelitian ini
akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dampak jangka
panjang dari penggunaan apology language, termasuk bagaimana hal ini
mempengaruhi stabilitas pernikahan, kualitas komunikasi, dan kemampuan
pasangan dalam mengatasi konflik seiring berjalannya waktu.
2. Merancang dan mengevaluasi efektivitas program pelatihan apology language
khusus untuk pasangan nikah usia muda. Program ini dapat fokus pada teknik-
teknik praktis dalam menggunakan apology language yang efektif, disesuaikan
dengan konteks budaya lokal di Kecamatan Sibulue. Evaluasi program ini dapat
memberikan wawasan berharga tentang cara terbaik untuk mengajarkan dan
menerapkan keterampilan apology language dalam kehidupan sehari-hari
pasangan muda.
3. Melakukan penelitian perbandingan tentang penggunaan apology language di
berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang berbeda. Studi ini dapat
membantu mengidentifikasi perbedaan dan persamaan dalam penerapan dan
efektivitas apology language di berbagai konteks budaya. Hal ini akan
memberikan pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana faktor budaya
mempengaruhi penggunaan dan penerimaan apology language dalam resolusi
konflik keluarga.
Ketersediaan
| SSYA20240217 | 217/2024 | Perpustakaan Pusat | Tersedia |
Informasi Detil
Judul Seri
-
No. Panggil
217/2024
Penerbit
IAIN BONE : Watampone., 2024
Deskripsi Fisik
-
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
Skripsi Syariah
Informasi Detil
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subyek
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Tidak tersedia versi lain
