Representasi Identitas Budaya Bugis Dalam Film Mappalisu Sumange
Riswandi/03.18.2046 - Personal Name
Penelitian ini membahas tentang representasi identitas budaya Bugis dalam film
Mappalisu Sumange. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui
bentuk budaya Bugis dalam film Mappalisu Sumange dan penggunaan unsur-unsur
semiotika terkait identitas budaya Bugis dalam film Mappalisu Sumange.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, dengan menggunakan
pendekatan semiotika. Sumber data yang digunakan yaitu data primer dan data
sekunder, pengumpulan data dengan cara observasi dan dokumentasi. Penelitian ini
menggunakan analisis semiotika Roland Barthes.
Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk budaya dalam film Mappalisu Sumange
yaitu terdiri dari nasihat dan ungkapan “massipa padaki kawalie, maciru, matareng
na mawoso”, penggunaan sarung membedong bayi, berjabat tangan, tudang
sipulung/musyawarah, penggunaan badik, penggunaan lipa (sarung), penggunaan
palo (topi), wadah makanan, Penggunaan boco (kelambu), membuat songkok recca,
bercocok tanam di ladang, penggunaan sanro (dukun beranak), bersyukur, beladiri
silat, penggunaan patung dan lukisan.Unsur-unsur semiotika terkait identitas budaya
Bugis dalam film Mappalisu Sumange terdiri dari sistem bahasa, sistem pengetahuan,
sistem organisasi sosial, sistem peralatan dan perlengkapan hidup manusia, sistem
ekonomi dan mata pencarian hidup, religi atau sistem kepercayaan, dan kesenian.
Unsur-unsur tersebut memberikan makna yang ada pada adegan bentuk budaya dalam
film Mappalisu Sumange.
Implikasi dalam penelitian ini yaitu menyaksikan atau menonton sebuah film,
masyarakat harus pandai memilih dan menerima yang ada dalam film atau tayangan
apapun yang dilihatnya dan diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi peneliti dan
seluruh pembaca secara umum. Peneliti menyarankan agar penelitian ini dapat
dikembangkan oleh peneliti lainya terkait bentuk dan makna budaya dalam sebuah
film.
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dikemukakan pada pembahasan
sebelumnya, maka dapat di ambil beberapa kesimpulan:
1. Bentuk budaya dalam film Mappalisu Sumange yaitu terdiri dari nasihat dan
ungkapan “massipa padaki kawalie, maciru, matareng na mawoso”,
penggunaan sarung, membedong bayi, berjabat tangan, tudang
sipulung/musyawarah, penggunaan badik, penggunaan lipa (sarung),
penggunaan palo (topi), wadah makanan, penggunaan boco (kelambu),
membuat songkok recca, bercocok tanam di ladang, penggunaan sanro (dukun
beranak), bersyukur, beladiri silat, penggunaan patung dan lukisan.
2. Unsur-unsur semiotika terkait identitas budaya Bugis dalam film Mappalisu
Sumange terdiri dari sistem bahasa, sistem pengetahuan, sistem organisasi
sosial, sistem peralatan dan perlengkapan hidup manusia, sistem ekonomi dan
mata pencarian hidup, religi atau sistem kepercayaan, dan kesenian. Unsur-
unsur tersebut memberikan makna yang ada pada adegan bentuk budaya dalam
film Mappalisu Sumange.
B. Implikasi
Dari uraian kesimpulan di atas maka adapun yang menjadi implikasi
sebagai berikut:
1. Menyaksikan atau menonton sebuah film, masyarakat harus pandai memilih
dan menerima yang ada dalam film atau tayangan apapun yang dilihatnya.
2. Diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi peneliti dan seluruh pembaca secara
umum. Peneliti menyarankan agar penelitian ini dapat dikembangkan oleh
peneliti lainya terkait bentuk dan makna budaya dalam sebuah film.
Mappalisu Sumange. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui
bentuk budaya Bugis dalam film Mappalisu Sumange dan penggunaan unsur-unsur
semiotika terkait identitas budaya Bugis dalam film Mappalisu Sumange.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, dengan menggunakan
pendekatan semiotika. Sumber data yang digunakan yaitu data primer dan data
sekunder, pengumpulan data dengan cara observasi dan dokumentasi. Penelitian ini
menggunakan analisis semiotika Roland Barthes.
Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk budaya dalam film Mappalisu Sumange
yaitu terdiri dari nasihat dan ungkapan “massipa padaki kawalie, maciru, matareng
na mawoso”, penggunaan sarung membedong bayi, berjabat tangan, tudang
sipulung/musyawarah, penggunaan badik, penggunaan lipa (sarung), penggunaan
palo (topi), wadah makanan, Penggunaan boco (kelambu), membuat songkok recca,
bercocok tanam di ladang, penggunaan sanro (dukun beranak), bersyukur, beladiri
silat, penggunaan patung dan lukisan.Unsur-unsur semiotika terkait identitas budaya
Bugis dalam film Mappalisu Sumange terdiri dari sistem bahasa, sistem pengetahuan,
sistem organisasi sosial, sistem peralatan dan perlengkapan hidup manusia, sistem
ekonomi dan mata pencarian hidup, religi atau sistem kepercayaan, dan kesenian.
Unsur-unsur tersebut memberikan makna yang ada pada adegan bentuk budaya dalam
film Mappalisu Sumange.
Implikasi dalam penelitian ini yaitu menyaksikan atau menonton sebuah film,
masyarakat harus pandai memilih dan menerima yang ada dalam film atau tayangan
apapun yang dilihatnya dan diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi peneliti dan
seluruh pembaca secara umum. Peneliti menyarankan agar penelitian ini dapat
dikembangkan oleh peneliti lainya terkait bentuk dan makna budaya dalam sebuah
film.
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dikemukakan pada pembahasan
sebelumnya, maka dapat di ambil beberapa kesimpulan:
1. Bentuk budaya dalam film Mappalisu Sumange yaitu terdiri dari nasihat dan
ungkapan “massipa padaki kawalie, maciru, matareng na mawoso”,
penggunaan sarung, membedong bayi, berjabat tangan, tudang
sipulung/musyawarah, penggunaan badik, penggunaan lipa (sarung),
penggunaan palo (topi), wadah makanan, penggunaan boco (kelambu),
membuat songkok recca, bercocok tanam di ladang, penggunaan sanro (dukun
beranak), bersyukur, beladiri silat, penggunaan patung dan lukisan.
2. Unsur-unsur semiotika terkait identitas budaya Bugis dalam film Mappalisu
Sumange terdiri dari sistem bahasa, sistem pengetahuan, sistem organisasi
sosial, sistem peralatan dan perlengkapan hidup manusia, sistem ekonomi dan
mata pencarian hidup, religi atau sistem kepercayaan, dan kesenian. Unsur-
unsur tersebut memberikan makna yang ada pada adegan bentuk budaya dalam
film Mappalisu Sumange.
B. Implikasi
Dari uraian kesimpulan di atas maka adapun yang menjadi implikasi
sebagai berikut:
1. Menyaksikan atau menonton sebuah film, masyarakat harus pandai memilih
dan menerima yang ada dalam film atau tayangan apapun yang dilihatnya.
2. Diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi peneliti dan seluruh pembaca secara
umum. Peneliti menyarankan agar penelitian ini dapat dikembangkan oleh
peneliti lainya terkait bentuk dan makna budaya dalam sebuah film.
Ketersediaan
| SFUD20220031 | 31/2022 | Perpustakaan Pusat | Tersedia |
Informasi Detil
Judul Seri
-
No. Panggil
31/2022
Penerbit
IAIN BONE : Watampone., 2022
Deskripsi Fisik
-
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
Skripsi FUD
Informasi Detil
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subyek
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Tidak tersedia versi lain
